Kota Samarinda adalah salah satu
kota sekaligus merupakan
ibu kota dari
provinsi Kalimantan Timur,
Indonesia. Berbatasan langsung dengan
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut dan udara. Dengan
Sungai Mahakam yang membelah di tengah Kota Samarinda, yang menjadi "gerbang" menuju pedalaman Kalimantan Timur. Kota ini memiliki luas wilayah 718 km²
[1] dan berpenduduk 579.933 jiwa (
6 Februari 2004).
Awal mula berdirinya Samarinda
Perjanjian Bungaya
Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah
Laksamana Speelman memimpin angkatan laut Kompeni menyerang
Makassar dari laut, sedangkan
Arung Palakka yang mendapat bantuan dari Belanda karena ingin melepaskan
Bone dari penjajahan
Sultan Hasanuddin (raja Gowa) menyerang dari daratan. Akhirnya
Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan
Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan
Perjanjian Bungaya pada tanggal
18 November 1667.
Sebuah
pasar di Samarinda dalam keadaan banjir pasang pada tanggal
19 Mei 1949. (
Kedatangan orang Bugis ke Kesultanan Kutai
Sebagian
orang-orang Bugis Wajo dari
kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi
perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah
Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari
Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar
muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).
Rumah Rakit yang Sama Rendah
Jl. Jendral Winkelman (sekarang Jl. RE Martadinata dan Jl. Gajah Mada) di tepi
Sungai Mahakam pada zaman penjajahan
Belanda.
Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan
Poea Adi bersama pengikutnya yang asal tanah
Sulawesi membuka perkampungan di
Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal
Pilipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah
kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang
Bugis,
Kutai,
Banjar dan suku lainnya.
Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda.
Sedang
Poea Adi diberi gelar Panglima Sepangan Pantai. Ia bertanggungjawab terhadap keamanan rakyat dan kampung-kampung sekitar sampai ke bagian
Muara Badak,
Muara Pantuan dan sekitarnya. Keputusan sidang kerajaan membuka
Desa Sama Rendah memang jitu. Sejak saat itu, keamanan di sepanjang pantai dan jalur
Mahakam menjadi kondusif. Tidak ada lagi bajak laut yang berani beraksi. Dengan demikian, kapal-kapal dagang yang berlayar, baik dari
Jawa maupun daerah lainnya bisa dengan aman memasuki Mahakam. Termasuk kapal-kapal pedagang
Belanda dan
Inggris. Mereka berlayar hingga ke pusat Kerajaan, di
Tepian Pandan. Dengan demikian roda pemerintahan berjalan dengan baik serta kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat
[2].
Samarinda Seberang
Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku ber
bahasa Belanda dengan judul “
Geschiedenis van Indonesie“ karangan
de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve,
Den Haag, tahun
1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di
Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Poea Adi.
Belanda yang mengikat perjanjian dengan
kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di
Samarinda Seberang pada tahun
1730 atau 62 tahun setelah Poea Adi membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.
Namun demikian, pembangunan
Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas ijin dari
Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.
Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari
Jawa dan
Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun
1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keamanan rakyat memang terjamin dengan terbentuknya
Hansip (Pertahanan Sipil) yang menggantikan OPR (
Organisasi Pertahanan Rakyat). Hansip mendukung keberadaan Polisi dan
TNI.
Kendati terbilang maju pada zamannya, perubahan signifikan Kota Samarinda dimulai ketika Walikota
Kadrie Oening diangkat dan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No.Pemda 7/ 67/14-239 tanggal
8 November 1967. Ia menggantikan
Mayor Ngoedio yang kemudian bertugas sebagai pejabat tinggi pemerintahan Jawa Timur di
Surabaya. Kotamadya Samarinda pada tahun
1950 terbagi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan
Samarinda Ulu,
Samarinda Ilir dan
Samarinda Seberang. Luas wilayahnya saat itu hanya 167 km². Kemudian pada tahun
1960 wilayah Samarinda diperluas menjadi 2.727 km² meliputi daerah Kecamatan
Palaran,
Sanga-Sanga,
Muara Jawa dan
Samboja. Namun belakangan, kembali terjadi perubahan.
Kota Samarinda hanya tinggal Kecamatan
Palaran,
Samarinda Seberang,
Samarinda Ilir, dan
Samarinda Ulu[2].
Penetapan hari jadi Kota Samarinda
Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun
1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal
21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi
Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal
21 Januari 1980.
21 Januari 1668 /
5 Sya'ban 1070 Hijriyah : Kedatangan orang-orang
suku Bugis Wajo mendirikan pemukiman di
muara Karang Mumus.
Berdirinya Pemerintahan Kota Samarinda
Pemerintah Kotamadya Dati II Samarinda dan Kotapraja
Dibentuk dan didirikan pada tanggal
21 Januari 1960, berdasarkan
UU Darurat No. 3 Tahun 1953, Lembaran Negara No. 97 Tahun 1953 tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II Kabupaten/kotamadya di
Kalimantan Timur
Semula Kodya Dati II Samarinda terbagi dalam 3 kecamatan, yaitu Kecamatan
Samarinda Ulu,
Samarinda Ilir, dan
Samarinda Seberang. Kemudian dengan SK
Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Timur No. 18/SK/TH-Pem/1969 dan SK No. 55/TH-Pem/SK/1969, terhitung sejak tanggal
1 Maret 1969, wilayah administratif Kodya Dati II Samarinda ditambah dengan 4 kecamatan, yaitu Kecamatan
Palaran,
Sanga-Sanga,
Muara Jawa dan
Samboja. Saat ini Samarinda terdiri dari 6 kecamatan, tidak termasuk
Sanga-Sanga,
Muara Jawa dan
Samboja, ketiganya masuk dalam
Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setelah
PP No. 38 Tahun 1996 terbit, wilayah administrasi Kodya Dati II Samarinda mengalami pemekaran, semula terdiri dari 4
kecamatan menjadi 6
kecamatan, yaitu:
Rencananya kecamatan dan kelurahan tersebut akan dimekarkan kembali dengan usulan nama kecamatan
Samarinda Kota, kecamatan
Samarinda Selatan, kecamatan
Sambutan, dan kecamatan
Sungai Pinang. Usulan ini masih dalam pembahasan DPRD Kota Samarinda.
Berdasarkan
Perda Kota Samarinda No. 1 Tahun 1988, tanggal
21 Januari 1988, ditetapkan Hari Jadi Kota Samarinda adalah tanggal 21 Januari 1668. Penetapan ini bertepatan dengan Peringatan Hari Jadi Kota Samarinda ke-320.
[1]
Geografi

Dengan luas wilayah 718 km², Samarinda terletak di wilayah
khatulistiwa dengan
koordinat diantara 0°21'18"-1°09'16"
LS dan 116°15'16"-117°24'16"
BT.
Batas-batas wilayah
Topografi
Topografi Samarinda meliputi tanah datar dan berbukit di ketinggian antara 10 s.d. 200
m di atas
permukaan laut.
Pemerintahan dan layanan publik
Walikota
Saat ini walikota dijabat oleh
Drs. H. Achmad Amins, MM, yang berpasangan dengan wakil walikota,
Syaharie Jaang, memenangkan
Pilkada Samarinda pada tanggal
19 September 2005, dan dilantik oleh
Gubernur Kaltim,
Suwarna A.F. pada tanggal
25 November 2005, di GOR Segiri, Samarinda.
Kecamatan di Samarinda
Berdasarkan PP RI No. 21 tahun 1987 dan Instruksi Mendagri No. 26 tahun 1997, tentang penetapan batas wilayah, maka secara administratif Kota Samarinda memiliki luas 718 km
2, yang terdiri dari 6
kecamatan, yang terbagi dalam 53
kelurahan.
Militer
Maskot Kota Samarinda
Pesut Mahakam yang mati akibat ditabrak kapal motor. Jika tidak ada upaya nyata dari pemerintah, maka fauna terlangka di dunia ini akan punah tahun
2011.
Pesut Mahakam adalah maskot
kota Samarinda. Namun saat ini Pesut Mahakam tidak terlihat lagi di sepanjang
sungai Mahakam kota Samarinda. Pesut Mahakam terdesak oleh kemajuan kota dan pindah ke hulu sungai. Populasi Pesut Mahakam semakin menurun dari tahun ke tahun. Bahkan menurut sebuah penelitian, Pesut Mahakam sekarang tinggal 50 ekor. Jika tidak dilakukan antisipasi dan pelestarian, maka dalam waktu beberapa tahun saja Pesut Mahakam akan punah, menyusul
pesut dari
Sungai Irrawaddy dan Sungai
Mekong yang sudah terlebih dahulu punah dan Pesut Mahakam adalah pesut air tawar terakhir yang hidup di
planet bumi.
Tempat menarik
Wisata
Kawasan Wisata Budaya Pampang
Kawasan Pampang yang terletak sekitar 20 km dari kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan
suku Dayak Kenyah. Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan raya
Samarinda-
Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah yang diselenggarakan setiap hari Minggu pukul 14.00 wita.
[3]
Air Terjun Tanah Merah
Terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda tepatnya di dusun Purwosari kecamatan
Samarinda Utara. Tempat ini merupakan pilihan tepat bagi wisata keluarga karena dilengkapi pendopo istirahat, tempat berteduh dengan pohon peneduh di sekitar lokasi, warung, areal parkir kendaraan yang luas, pentas terbuka dan tempat pemandian. untuk mencapai obyek wisata tersebut, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat serta angkutan umum trayek Pasar Segiri - Sungai Siring. Untuk saat ini tempat wisata ini kurang mendapat perhatian akibatnya mutu pelayanan jadi berkurang sehingga perlu adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk mengembangkan tempat ini.
Penangkaran Buaya Makroman
Terletak di desa Pulau Atas, kecamatan Palaran dengan jarak lebih kurang 6 km dari Samarinda. Jenis buaya yang dipelihara yaitu buaya air tawar dan buaya Supit. Tempat pengembangbiakan buaya ini telah di lengkapi sarana dan prasarana wisata.
Kebun Raya Samarinda
Terletak di sebelah Utara kota Samarinda yang berjarak 20 km atau 30 menit perjalan darat. Di Kebun Raya Samarinda terdapat atraksi Danau alam, kebun binatang, panggung hiburan.
[sunting] Telaga Permai Batu Besaung
Obyek wisata Telaga Permai Batu Besaung merupakan obyek wisata alam, terletak di Sempaja 15 km dari pusat kota Samarinda dengan kendaraan motor/mobil. Obyek wisata ini telah dilengkapi sarana dan prasarana wisata.
Kerajinan Tenun Ikat Sarung Samarinda
Terletak di Jalan Pangeran Bendahara Samarinda Seberang. Obyek wisata ini merupakan proses pembuatan sarung tradisional Samarinda, yang berjarak 8 km dari pusat kota Samarinda. Obyek tersebut telah dilengakapi sarana dan prasarana wisata. Kerajian tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi yang berdiam di sisi kiri Mahakam (sekarang menjadi Samarinda Seberang). Hampir disetiap perkampungan suku Bugis (kelurahan masjid Baka) dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional disebut "Gedokan" atau menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk yang dihasilkan untuk 1 (satu) buah sarung memakan waktu tiga minggu.
Transportasi
Air
Jembatan Mahakam di foto dari udara
Sejak didirikannya, transportasi utama Samarinda melalui
Sungai Mahakam yang membelahnya ditengah-tengah, pada tahun
1987 baru dibangun
Jembatan Mahakam yang menghubungkan Samarinda kota dengan Samarinda Seberang. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009
Jembatan Mahakam Hulu atau
Mahulu,
Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi) dan
Jembatan Mahkota III (tahap pembebasan lahan).
Terdapat pelabuhan peti kemas yang berada di Jalan Yos Sudarso, dan sekarang sedang dibangun pelabuhan baru yang terletak di
kecamatan Palaran untuk menggantikan pelabuhan yang sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi kota.
Darat
Terdapat jalan darat yang menghubungkan kota Samarinda dengan
Balikpapan ke selatan, kemudian
Bontang dan
Sangatta ke utara, serta jalan baru yang menghubungkan ke
Tenggarong, serta ke
Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara melalui jalan timur yang tembus sampai ke Senipah, Samboja dan
Balikpapan.
Udara
Bandar Udara Temindung (kode
SRI) merupakan bandar udara yang menghubungkan Samarinda dengan kota-kota di pedalaman serta
Balikpapan. Saat ini sedang dibuat
Bandar Udara Sungai Siring, agar dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar.
Sekolah Menengah
SMAN 5, salah satu SMA favorit di Samarinda
Perguruan Tinggi
Terdapat cukup banyak perguruan tinggi di Samarinda, diantaranya adalah:
Klub Olahraga
Media